Pencarian

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Februari 2015

Sejarah Israel



Sejarah Israel: Dampak Zionisme Terhadap Terbentuknya Negara Israel




MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Sejarah Asia Barat Daya
Yang dibina oleh
Ulfatun Nafi’ah, M.Pd




Oleh
Galih Yoga Wahyu Kuncoro
130731615690







 
















UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN SEJARAH
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN SEJARAH
JANUARI 2015


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
            Israel adalah sebuah negara yang berdiri tahun 14 Mei 1948. Ibu kotanya berada di Tel Aviv. “Dengan jumlah penduduk 7,5 juta saat ini Israel merupakan satu-satunya negara Yahudi di dunia” (Wikipedia).
            Between Taurus and Sinai, between the desert and sea, lie the four modern states of Syiria, Lebanon, Israel and Jordan, which the Romans called Syiria and Palestine, the Arabs called the lands of Sham, and European traders called the Levant (Lewis Bernard. 1964:14). Meskipun Israel baru berdiri tahun 1948, namun Israel lebih dulu dikenal dengan nama Sham oleh bangsa Arab dan oleh pedagang Eropa dikenal dengan Levant. Letaknya berada diantara bukit Sinai dan Taurus, dan berada diantara gurun dan laut.
            Pemikiran pendirian negara Yahudi (Israel) terjadi sejak 2.000 tahun sebelum masehi. Hal ini didasarkan bahwa bangsa Yahudi merupakan keturunan dari Ibrahim (Abraham) pada tahun 2000 SM, Ibrahim As berpindah dari Babilonia  lama  (sekarang  Irak)  ke  tanah  Kanaan (sekarang  Palestina). Di wilayah tersebut, Ibrahim As  hidup bersama generasi berikut-berikutnya. 
            The departures was organized, but not all the Israelites could bring themselves to leave Babylon. This is to natural a fact to call for any explanation. To leave meant abandon, or to sell at a low price, land, and business concerns, to give up situations, and to break ties of affection ... therefore remained in Mesopotamia, Jewish Colonies that extended all over Persian empire; they anticipated exactly those with which we are familiar in modern Europe and America. Some exploited land, other become bankers.” ( Daniels. 1957:229). Pada saat terjadi kekeringan pada masa Nabi Yusuf, tidak semua orang pergi meninggalkan Babylonia, masih ada beberapa orang yang tinggal di Mesopotamia. Kemudian pada perkembangannya orang-orang Yahudi ini pergi ke Eropa dan Amerika, kebanyakan dari mereka mengekploitasi tanah dan menjadi bankir.
            Munculnya paham Zionism melahirkan sebuah konsep dimana harus terbentuk sebuah negara sendiri dan bahasa sendiri untuk kaum Yahudi. Dan ini melahirkan negara Israel. Gerakan ini lahir di Eropa. Tepatnya dari Eropa Timur.
            Zionisme ini kemudian melahirkan sebuah gerakan migrasi dari Eropa menuju ke Palestina. Mereka yang pada awalnya bermukim kemudian membentuk sebuah negara yang berawal dari persamaan nasib bahwa bangsa Yahudi merupakan bangsa besar namun tidak memiliki tanah, menurut mereka Kanaan merupakan tanah yang dijanjikan Tuhan kepada mereka.
            Zionisme kemudian melahirkan Deklarasi Balfour dimana Inggris kemudian ikut campur dalam proses terbentuknya negara Israel. Campur tangan Inggris terjadi karena bantuan Arab dan Yahudi terhadap Inggri dalam menggempur Turki Utsmani.
            Penulis tertarik membahas sejarah Israel karena negara ini terbentuk oleh sebuah gerakan yang lahir di Eropa. Sejarah lahirnya Israel juga merupakan sebuah gagasan yang lahir 2.000 tahun sebelum masehi.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana kondisi negara Israel secara umum?
2.      Bagaimana Zionisme menjadi dasar nasionalisme Israel?
3.      Bagaimana berdirinya negara Israel?
1.3  Tujuan
1.      Untuk menjelaskan kondisi negara Israel.
2.      Untuk menjelaskan bagaimana Zionisme menjadi dasar lahirnya nasionalisme di Israel.
3.      Untuk menjelaskan berdirinya negara Israel.


BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Kondisi umum negara Israel
            Israel berdiri pada 14 Mei 1948. Negara ini merupakan satu-satunya negara Yahudi di dunia. “Yahudi adalah nama sebuah bangsa yang berasal dari bangsa Ur di Mesopotamia “(Yusliani. 2004: 320).
            Bangsa ini tidak memiliki tempat resmi sejak zaman Nabi Musa As. mereka terusir dari Mesir. Namun sejak itu mereka menetap di Yerussalem. Kemudian mereka berhasil mendirikan kerajaan-kerajaan yang besar.
            Yahudi merupakan bangsa yang besar, namun beberapa kali mereka kalah perang dan berhasil dikalahkan oleh lawan-lawannya. Mereka kemudian dijadikan budak. Banyak penduduku Yahudi yang kemudian migrasi atau menyelamatkan diri ke luar dari Yerussalem. Dan ada pula yang terusir dari Madinah.
            Kejadian ini yang kemudian membangkitkan semangat nasionalisme Israel (Yahudi) dimana mereka terusir dari tempat yang menurut mereka dijanjikan oleh Tuhan-Nya. Mereka kemudian mendoktrin anak cucu mereka bahwa mereka harus kembali ke tanah pemberian Tuhan.
            Kelahiran negara Israel tidak lepas dari peran Inggris. Yahudi dan Inggris bahu-membahu dalam perang dunia pertama. Oleh karena itu Inggris mendukung konsep rumah nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina. Akan tetapi Israel berhasil memanfaatkan hal tersebut untuk kemerdekaannya.
            Konflik Arab dan Israel terjadi karena terusirnya orang Yahudi dari Madinah pada masa Nabi Muhammad SAW. mereka kemudian dendam dengan kaum Muslim. Hal ini menyebabkan terjadinya konflik hingga sekarang karena sejarah keduanya sebagai bangsa yang besar.

2.2 Zionisme sebagai dasar lahirnya nasionalisme negara Israel
            Another brand of nationalism, strikingly different from Muslim nationalisms in some respects, surprisingly similar in others, is Jewish nationalism, one of the elements contributing to the growth of political Zionism” (Lewis Bernard. 1964:90). Menurut Bernard, Yahudi merupakan salah satu elemen dari pertumbuhan politik Zionism. Salah satu bentuk lain dari nasionalisme yang berbeda dengan Muslim meskipun di beberapa hal sama.
            Menurut Hinson (2004:8) Al Kitab, memuat laporan-laporan mengenai beberapa peristiwa, antara lain dua peristiwa penting bagi kehidupan Israel, yaitu:
1.      Keluaran dari Mesir, yaitu ketika orang-orang Israel keluar dari perbudakan di Mesir, dan
2.      Pembuangan di Babel, yaitu ketika mereka dikalahkan dan para pemimpinnya ditawan ke Babilonia.       
            Kemudian para pemuka Israel mencetuskan ide untuk kembali ke Israel dengan menanamkan doktrin untuk kembali lagi berkuasa di Israel.          
            Jews are inventine people. They have been credited, by their more ardent admirers and detractors, with inventing both capitalism and comunisme, both Cristianity and Islam; they did not, however, invent political Zionism, which is in part a Jewish response to the impact of central and east European nationalism, in part an attempt to provide an answer to Jewish needs” (Lewis Bernard. 1964:91). Yahudi mereka lahir dari pengagum dan pengkritik mereka baik dari kapitalis maupun komunis, baik Kristen dan Islam. Mereka menciptakan Zionisme sebagai respon dari dampak nasionalisme yang lahir di Eropa timur sebagai jawaban atas kebutuhan kaum Yahudi.
            Zionist dream and aims were focused on two things especially, on Hebrew and Palestine;that is, on a language which Jews did not speak, and a country in which they did not live” (Lewis Bernard. 1964:91). Impian dan tujuan kaum Zionis hanya berfokus kepada dua hal, yang pertama adalah bahasa Ibrani dan yang kedua adalah Palestina. Bahasa Ibrani setelah lahirnya negara Israel menjadi bahasa nasional karena pada dasarnya merupakan bahasa dimana orang Yahudi tidak bisa menggunakannya untuk berbicara sebelum lahirnya Israel. Dan kemudian Palestina merupakan tanah yang menurut orang Yahudi merupakan pemberian Tuhan kepada mereka yang tidak pernah ditinggali setelah mereka terusir dari Kanaan.
                        Setelah terusir mereka kemudian mereka bermigrasi ke Eropa ketika itu Israel dikuasai oleh Romawi Kuno dan banyak penduduknya dikirim ke Yunani. Mereka yang memiliki paham bahwa Kanaan merupakan tanah yang dijanjikan Tuhan kemudian mengadakan Kongres Zionis yang pertama. “Berkat usaha Theodor Herzl (1860-1904) pada 1895 diadakan kongres Zionisme yang pertama di Baserl Switzerland” (Sihbudi dalam Yusliani. :324). Kongres ini bertujuan untuk menganalisa strategi mereka yang akan dilancarkan demi mencapai maksud mereka, yaitu menjadikan dunia sebagai budak Zionisme dan akan mendirikan pemerintahan Zionis internasional dengan ibu kotanya El-Quds (Yerussalem) (Noor Yusliani. 2004:324).
            Sebagian bangsa Yahudi yang masih menetap di Palestina kemudian diusir pada masa Nabi Muhammad SAW. Hal ini dikarenakan bangsa Yahudi melanggar sebuah perjanjian yang dikenal sebagai Piagam Madinah. “... bahwa Nabi Muhammad saw. Tetap mengakui eksistensi perbedaan agama” (Husaini. 2004: 70). Namun karena terjadi pengkhianatan maka sejumlah kabilah Yahudi diusir dari Madinah, hukuman paling keras diterima oleh Bani Quraidhah. Mereka dihukum mati untuk semua laki-laki dewasa.
            “Anti-semitism yang dikobarkan Jerman-Nazi yang kemudian menduduki hampir seluruh Eropa daratan ... di tengah kaum Jahudi tinggal menjadi musuh, menolak memberi perlindungan mungkin juga dapat menjelaskan fanatisme terhadap berdirinya negara Jahudi yang aman  yakni Israel biarpun asal usul idenya sudah hampir 2.000 tahun yang lalu atau sejak zaman Injil-Tua (Biblica)” (Onghokham dalam Hannah. 1995: ix). Ketika itu orang Israel dijadikan budak oleh orang Mesir dan Babilonia. Kemudian dengan adanya Holocaust oleh Jerman-Nazi, kemudian banyak kaum Yahudi bermigrasi ke Palestina dalam rangka untuk bertahan hidup dan pergi ke tanah yang dijanjikan oleh Tuhan. 
            “Sentimen anti-Jahudi ini mungkin berasal dari agama, perbedaan agama dan tuduhan bahwa Jahudi membunuh Nabi Isa. Tuduhan terakhir ini mungkin muncul karena saingan ekonomi di Eropa sebelum revolusi Prancis dan revolusi indsutri atau sebelum munculnya kelas menengah di Eropa Barat” (Onghokham dalam Hannah.1995: ix-x).
            Tradisi anti-Jahudi ini seperti banyak sentimen anti-minoritas yang sukses dalam bidang ekonomi, mudah tercampur antara sentimen anti-agama, anti-ras, dan kecemburuan ekonomi-sosial. Mudahlah bagi yang berkebudayaan dan beragama non-Jahudi, kaum minoritas Jahudi ini dianggap setan yang menyebabkan ketertindasan  masyarakat Eropa pribumi. (Onghokham dalam Hannah. 1995: x)
            Pemerintah kolonial dengan demikian  berkuasa lewat titah, ..., pada saat yang sama menciptakan suatu atmosfer di mana dominasi rasial dikukuhkan dan dibenarkan secara historis, ..., ajaran yang demikian itu lantas menjadi sesuatu yang menghasut ketika itu, di Eropa , gagasan itu berbaur dengan dan sebagian memanaskan situasi Imperialisme antar golongan di wilayah itu sendiri, terutama Rusia dan Jerman (Beilharz. 2005: 35). Dampaknya, kaum Yahudi yang kalah saat pemberontakan di Rusia, dan kaum Yahudi yang melarikan diri dari Nazi Jerman kemudian pindah ke tanah Palestina. 
            Meskipun Yahudi menjadi korban oleh Nazi, tetap saja Yahudi berperan di Jerman itu sendiri. “Seperti banyak waqrga bangsa Yahudi yang merasa terasimilasi total pada kebudayaan Jerman- sampai mereka dikagetkan secara brutal oleh Adolf Hitler- dan yang memberikan sumbangan-sumbangan luar biasa bagi perkembangan kebudayaan maupun ilmu pengetahuan Jerman” (Franz-Magnis. 1995: ix).
            Throughout the periode of the dispersion Jews from other lands had from time to time to settled in Palestine. Their number however, had ben small, and their purpose mainly religious” (Ldewis Bernard. 1964:22). Pada awal mulanya terpecahnya orang Yahudi beberapa dari waktu ke waktu menetap di Palestina dengan tujuan awal pendalaman agama, dimana kita ketahui Yerussalem (Palestina, Israel sekarang) merupakan tempat suci bagi tiga agama (Yahudi, Kristen dan Islam).
            The new Immigrants-often called pioneers, settlers or colonies-were men whose faith was national rather than religious, and whose purpose in the Holy Land was not to pray and die but to work and live. The growth of militant anti-semitism in Europe gave new point and drive to Jewish nationalism” (Lewis Bernard.1964:22-23). Pendatang baru yang disebut sebagai pioner, penduduk maupun kolonial yang lebih percaya kepada nasionalisme daripada agama dan memiliki tujuan untuk bekerja bukan untuk agama muncul akibat tumbuhnya milisi anti-semitism di Eropa.
            In 1914 there were about 85.000 Jews in Palestine: in 1948 they had increased to more than a half million, and were able to establish the State of Israel- the  first Jewish state in Palestine (though not in other place) for 2.000 years. An incidental consequence was the virtual liquidation, by emigration, of the ancient Jewish Communities in  the Arab lands” (Lewis Bernard. 1964:23). Perkembangan jumlah Yahudi di Palestina memungkinkan berdirinya negara Yahudi yang pertama sejak 2.000 tahun lalu. Jumlah ini terdiri dari orang Yahudi yang asli menetap di Palestina dan para pendatang dari komunitas Yahudi kuno yang pindah pada zaman Nabi Ibrahim maupun setelahnya. 

2.3 Berdirinya negara Israel
            Masalah Palestina adalah masalah antara bangsa Arab dan bangsa Yahudi. Yang mana pada 1905 imigrasi Yahudi ke Palestina mulai besar-besaran, diakrenakan orang-orang Yahudi di Rusia ikut serta dalam revolusi Rusia pada 1905 (mengalami kegagalan) dan kemudian mereka masuk ke wilayah Palestina (Yusliani. 2004:327).
            Pecahnya perang dunia pertama membuat Inggris harus meminta bantuan kepada Arab dan Yahudi, yang mana kedua negara ini bangsa ini saling bertengkar satu sama lain. “... dimana baik pihak Arab maupun Yahudi sangat berjasa terhadap Inggris dalam Perang Dunia I. Dari pihak Yahudi menyanggupi bantuan Inggris jika mau melaksanakan tuntutan Zionisme sesudah perang selesai, sedangkan bangsa Arab mau membantu untuk meruntuhkan Kerajaan Turki dan memberi kemerdekaan bagi Arabia (termasuk Palestina) dan akhirnya Inggris menyanggupi baik kepada Yahudi maupun kepada Arab” (Yusliani. :327). Dalam perang dunia pertama, Inggris dan sekutunya bertempur melawan Jerman, Turki Utsmani, dan sekutunya. Kemudia Inggris menang atas Turki Utsmani dengan bantuan Arab dan Yahudi. Oleh karena itu kemudian Inggris dengan surat yang kemudian dikenal Deklarasi Balfour.

Foreign Office
November 2nd, 1917
Dear Lord Rothschild,
I have much pleasure in conveying to you, on behalf of His Majesty's
Government, the following declaration of sympathy with Jewish Zionist aspirations which has been submitted to, and approved by, the Cabinet.
"His Majesty's Government view with favour the establishment in Palestine of a
national  home  for  the  Jewish  people,  and  will  use  their  best  endeavours  to
facilitate the achievement of this object, it being clearly understood that nothing
shall be done which may prejudice the civil and religious rights of existing nonJewish  communities  in  Palestine,  or  the  rights  and  political  status  enjoyed  by
Jews in any other country."
I should be grateful if you would bring this declaration to the knowledge of the
Zionist Federation.
Yours sincerelys,
Arthur James Balfour

            Surat dari James Balfour kepada Lord  (Lionel) Rothschild, kepala Kehormatan Federasi Zionis di Inggris dan Irlandia untuk bangsa Yahudi. Dimana Inggris mendukung pendirian negara Israel secara resmi pada tanggal 2 November 1917.  Keputusan Inggris mendukung pendirian negara Israel secara resmi dikarenakan bangsa Yahudi memiliki hubungan dengan Inggris pada saat perang dunia pertama terjadi.
            Isi dari surat tersebut adalah pemerintah Inggris akan membantu mendirikan wilayah nasional bagi orang-orang Yahudi di Palestina dan akan mengerahkan upaya terbaik dalam memfasilitasi tujuan ini. Inggris juga tidak akan mengerahkan sesuatu yang mungkin merugikan hak sipil dan keagamaan bagi komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina. Dan Inggris tidak akan mengganggu hak-hak orang Yahudi yang ingin tetap tinggal di luar wilayah Palestina.
            “Maka selama periode administrasi militer tahun 1918 hingga 1920, tampaknya Inggris cenderung untuk menyingkirkan deklarasi Balfour... yang tampak sebenarnya terjadi adalah kecenderungan orang Inggris untuk memihak kaum tertindas, walaupun kadang ini dilakukan dengan cara yang buruk” (Amstrong Karen : 167). Alasannya adalah bahwa situasi di Palestina adalah amat asing bagi kebanyakan pejabat Inggris disana: mereka terbiasa membela hak-hak orang Inggris melawan sebuah mayoritas pendudukan kolonial, dan itu terasa “benar”. Namun di Palestina mereka diminta untuk mendesak keinginan para Yahudi Rusia dan banyak yang merasa sulit dalam memahami hal ini.
            Maka pada tahun 1918 Inggris membatasi imigrasi Yahudi dan menahan peralihan kepemilikan wilayah Palestina kepada orang-orang Yahudi, atas dasar bahwa penyerahan itu akan melanggar status Quo (Amstrong: :167). Inggris juga melarang dinyanyikannya lagu “Hatikvah” lagu kebangsaan Yahudi dan menolak penggunaan bahasa Ibrani sebagai bahasa nasional.
            Munculnya permasalahan rasial di Palestina pada 1920 membuat Inggris bersimpati kembali terhadap Yahudi. Hal ini terjadi karena bangsa Arab menyerang Yahudi. Inggris memang mendukung rumah nasional bangsa Yahudi, namun mereka menentang pendirian Negara Israel. Akan tetapi pada 1928 terjadi masalah rasial lagi terkait dengan Tembok Ratapan. Dimana orang Muslim meyakini bahwa tembok ini merupakan tempat dimana Nabi Muhammad SAW menambatkan kudanya ketika Isra dan Mikraj. 
            “Dengan keluarnya Deklarasi Balfour ini menyebabkan Inggris mengalami banyak kesulitan dan menjadi kebingungan untuk mengatasinya hingga akhirnya menyerahkan mandatnya kepada Palaestina kepada PBB. Pada 1948 Inggris meninggalkan Palestina, maka bangsa Yahudi memproklamasikan berdirinya “Republik Israel” pada 15 Mei 1948 dan sebagai presidennya yang pertama adalah Dr. Chaim Weizmann (Pimpinan Gerakan Zionis) dan negara baru ini mendapatkan pengakuan dari USA, Rusia dan beberapa negara lainnya” (Yusliani. 2004:322).



BAB 3
PENUTUP
3.1       Kesimpulan
1.         Israel adalah satu-satunya negara Yahudi di dunia. Kehadirannya ditentang oleh Bangsa Arab. Awal kemerdekaannya pun diwarnai dengan perang selama 6 hari yang dikenal dengan perang Youm Kippur. Letaknya strategis, awal mula bangsa ini muncul 2000 tahun sebelum masehi. Dimana kemudian mereka melakukan migrasi dan kembali lagi ke Palestina.
2.         Zionisme adalah gerakan yang memunculkan ide kembalinya bangsa Yahudi ke tempat yang Tuhan sudah janjikan bagi mereka (Palestina). Gerakan ini mendasari terjadinya migrasi ke Palestina secara besar-besaran sejak tahun 1914. Hal ini juga didasari oleh adanya gerakan Holocaust yang terjadi di Eropa, munculnya gerakan anti-Semitism juga berpengaruh terhadap migrasi orang Yahudi dari Eropa ke Palestina. Pencetusnya dari orang Eropa adalah Theodor Herzl yang berhasil mengadakan Kongres Zionis pertama di Bassel, Swiss.
3.         Deklarasi Balfour adalah faktor penting dalam kelahiran Israel. Bangsa Zionis mendapatkan dukungan dari negara Inggris atas jasanya dalam memberi bantuan dalam perang dunia pertama melawan Turki Utsmani.  Inggris kemudian mendapat mandat untuk menjaga wilayah Palestina. Lahirnya negara Israel adalah sehari sebelum berakhirnya mandat Inggris di  wilayah Palestina (14 Mei 1948). Israel berhasil mengukuhkan kedudukannya setelah diakui oleh negara-negara lain. Meskipun banyak negara Arab menentang lahirnya negara ini, negara ini mampu mengatasi serangan gabungan bangsa Arab. Hal ini menyebabkan jatuhnya wilayah Palestina ke dalam wilayah Israel.
3.2              Saran
            Meskipun secara Historis bangsa Arab, Yahudi dan Kristen  saling bertengkar dan berebut Yerussalem. Perlu kita lihat bahwa peperangan apapun akan membawa korban. Oleh karena itu hendaknya kita saling menghargai kerukunan antar bangsa. Tidak saling menyerang ketika terjadi sebuah konflik. 
Dan perlu dipahami keterkaitan antar peristiwa yang terjadi kini dengan peristiwa di masa lalu sebagai dasar pemikiran untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.


DAFTAR RUJUKAN

Amstrong Karen. 2003. Perang suci : dari perang Salib hingga perang Teluk. Jakarta: Serambi.
Ardent Hannah, Onghokham. 1995. Asal-Usul Totalitarisme (Imperialisme II). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia (IKAPI).
Ardent Hannah, Franz-Magnis Suseno SJ. 1995. Asal-Usul Totalitarisme (Imperialisme III). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia (IKAPI).
Beilharz Peter. 2005. Teori-Teori Sosial. Yogyakarta:  Pustaka Pelajar.
Bernard Lewis. 1964. The Middle East and the West. USA: Indiana University.
Daniels Rops. 1957. Israel and the Ancient World (A history of the Israelites from Abraham to the birth of Christ). London: EYRE & SPOTTISWOODE
Hinson David F, Mawene M. Th. 2004. Sejarah Israel pada zaman Alkitab. Jakarta: Gunung Mulia.
Husaini Adian. 2004. Tinjauan Historis KONFLIK YAHUDI, KRISTEN, ISLAM. Jakarta: GEMA INSANI
Noor Yusliani. 2014. Sejarah Timur Tengah (Asia Barat Daya). Yogyakarta: Ombak.


Sabtu, 24 Januari 2015

METODE PENULISAN SEJARAH



METODE PENULISAN SEJARAH


MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Pengantar Ilmu Sejarah
Yang dibina oleh Ibu Indah Wahyu Puji Utami, S.Pd, S.Hum, M.Pd
Oleh
Alifah Nur Muslimah               (130731607245)
Galih Yoga Wahyu Kuncoro   (130731615690)
Intan Febri Layyinah               (130731615706)
Muhammad Tarmizi                 (130731607232)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN SEJARAH
SEPTEMBER 2013



KATA PENGANTAR

Memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, karena atas berkah dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini, yang berjudul Metode Pembelajaran Sejarah dengan harapan dapat mengetahui, serta memahami metode pembelajaran  sejarah yang baik.  Dan juga  tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah mendukung dalam pembuatan makalah ini.
Penulis sadar makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kritik maupun saran membangun diharapkan dapat diberikan kepada penulis untuk lebih menyempurnakan makalah ini semoga bermanfaat. Terima kasih.





                                                                        Malang, 17 September 2013



                                                                                    Penulis



DAFTAR ISI
                                                                                      Halaman
KATA PENGANTAR …...……….………………………………………………… i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………….. ii
BAB 1 PENDAHULUAN
                        Latar Belakang Masalah ……………………………………………………..1
                        Topik Pembahasan …………………………………………………………...1                                Tujuan Penulisan Makalah ...…………………………………………………2
BAB 2 PEMBAHASAN
            Penggunaan Catatanbawah …………………………………………….……..3
            Imajinasi didalam Historiografi ………………………………………..……..5
            Masalah Seleksi, Penyusunan, dan Tekanan ………………………….……...6
            Mendefinisikan Kembali Historiografi ……………………………….……....6
            Masalah Penyusunan : Periodesasi …………………………………….……..7
            Penulisan Sejarah yang Bersifat Ilmiah ……………………………….……...9
            Metodologi Sejarah …………………………………………………….…….10
BAB 3 PENUTUP
            Kesimpulan …………………………………………………………………..13
            Saran …………………………………………………………………………14
DAFTAR RUJUKAN ……….……………………………………….……………...15







BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sudah banyak sekali buku-buku tentang sejarah yang pernah kita baca, mulai dari zaman prasejarah sampai sejarah pada zaman milenium ini, buku-buku tersebut memberikan bacaan dan ilmu yang sangat kita butuhkan sebagai seorang agen sejarah, segala informasi yang tersusun secara sistematis dan memberikan kita banyak sekali pengetahuan yang lebih jauh tentang sejarah, semuanya tersusun rapi, memiliki sistematika yang jelas sehingga mudah untuk difahami.
Namun tak banyak kita ketahui, bagaimanakah sebenarnya metode penulisan buku sejarah tersebut sehingga pengetahuan tentang sejarah dapat disajikan dengan begitu bagus dengan bahasa yang baik dan efisien sehingga memudahkan kami dalam memahami sejarah.
Inilah yang mendorong kami untuk mencari informasi lebih tentang metode penulisan sejarah, dengan metode yang seperti apa sehingga paparan sejarah yang disajikan bisa begitu sistematis? Tidak asal tulis? Bagaimana cara menuliskan sejarah dengan metode yang baik dan tidak membingungkan pembaca? Semoga makalah ini bisa menjawab ketidak tahuan kami tentang metode penulisan sejarah.

B.     Topik Pembahasan
Bertitik tolak dari latar belakang masalah diatas, kami mengidentifikasi pokok-pokok masalah yang akan dibahas yaitu :
1.                 Bagaimana cara menulis sejarah dengan baik dan benar?
2.                 Apa sajakah metode yang digunakan dalam penulisan sejarah?
3.                 Bagaimana metode penyusunan sejarah?

C.    Tujuan Penulisan Makalah
Berdasarkan topik pembahasan diatas, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah mendorong mahasiswa agar mampu :
1.                 Untuk mengidentifikasi metode apa saja yang digunakan dalam penulisan sejarah
2.                 Untuk memudahkan mahasiswa dalam menyusun historiografi dengan baik dan benar
3.                 Untuk menginformasikan kepada mahasiswa bagaimana cara menyusun penulisan sejarah.
4.                 Membuat suatu tulisan tentang sejarah setelah mengetahui metode penulisannya.




BAB II
PEMBAHASAN
A.   Penggunaan catatanbawah
Sejarawan didalam karyanya yang serius meniadakan catatanbawah, dengan demikian meniadakan sarana yang memungkinkan orang lain menguji kesimpulan-kesimpulannya. Catatanbawah memungkinkan pembaca yang cerdas untuk mengetahui bagaimana pengarang dapat mengetahui dan bagi seorang sejarawan, dan bukan sebagai penghasil sesuap nasi bagi keluarganya, seorang pembaca yang cerdas sama halnya dengan seratus pembaca dari jenis yang sering bergerombol didalam klub-klub buku. Tambahan pula catatanbawah memungkinkan pengarang yang tajam untuk memperoleh ketelitian yang lebih besar.
Sebab yang paling dapat dipertanggungjawabkan untuk memakai catatanbawah adalah untuk menunjukkan sumber bagi sesuatu pernyataan yang dapat diragukan kebenarannya. Dengan demikian catatanbawah berfungsi seperti panggilan terhadap seorang saksi didalam pengadilan. Diharapkan bahwa kesaksian itu dibuat sesingkat-singkatnya. Kadang-kadang, jika para saksi berbeda paham, maka perlu memanggil lebih dari satu, yakni untuk menyatakan perbedaan pahamnya dan bahkan untuk menghilangkan perbedaan paham diantara mereka dalam suatu catatanbawah. Dalam hal semacam itu, catatanbawah menjadi agak panjang tetapi akan tetap dipergunakan secara khusus untuk tujuan-tujuan dokumentasi, untuk menunjukkan sumber bagi kesaksian yang menjadi dasar daripada pernyataan yang diberi catatanbawah.

1.      Intisari metode sejarah
Jika metode sejarah mengalami perubahan yang lebih besar pada masa yang akan datang dibandingkan dengan masa yang lampau, maka sejarawan dimasa yang akan datang akan menempuh cara-cara yang sama seperti diuraikan didalam buku ini dalam menghadapi dokumen sejarah yang langsung hidup. Setelah menemukan dokumen-dokumen itu, ia harus menetapkan dua hal: Pertama, apakah dokumen-dokumen itu otentik,  atau bagian-bagian yang mana yang otentik jika hanya sebagian diantaranya atau hanya beberapa bagian dari yang otentik? Kedua, seberapa banyak dari bagian-bagian otentik tersebut yang dapat dipercaya, dan sejauh mana? Hanya itulah yang dapat diperoleh dokumen-dokumen itu sendiri. Akan tetapi hanya menemukan dan menetapkan otentik-tidaknya dokumen atau bahkan mengeditnya secara kritis dengan menunjukkan kredibilitasnya. Jika ingin menjadi sejarawan, satu hal yang berat akan dihadapinya. Masalah itu adalah bagaimana caranya harus menyusun detail yang telah disimpulkan dari dokumen-dokumen otentik menjadi suatu kisah atau penyajian yang saling berhubungan. Hanya apabila telah melakukan ketiga hal tersebut maka dapat disebut sebagai seorang sejarawan.
Dengan demikian cara menulis sejarah mengenai suatu tempat, peristiwa, lembaga, atau orang. Yang bertumpu pada empat kegiatan pokok :
1.                 Pengumpulan objek yang berasal dari jaman itu dan pengumpulan bahan-bahan tercetak, tertulis, yang boleh dijadikan relevan.
2.                 Menyingkirkan bahan-bahan yang tidak otentik.
3.                 Menyimpulkan kesaksian yang tidak dapat dipercaya mengenai bahan-bahan yang otentik.
4.                 Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya menjadi suatu kisah atau penyajian yang berarti. Suatu pengertian yang mngenai empat langkah tersebut diperlukan untuk membaca secara cerdas apa yang telah dituliskan oleh sejarawan. Buku ini berisi uraian mengenai empat langkah tersebut.

B.   Imajinasi didalam historiografi
Sejarawan tidak diijinkan untuk menghayalkan hal-hal yang menurut akal tidak mungkin terjadi. Untuk tujuan tertentu yang kemudian akan kita bahas, ia boleh boleh menghayalkan hal-hal yang mungkin telah terjadi. Tetapi ia harus menghayalkan hal-hal yang kiranya pasti telah terjadi. Tidak mungkin untuk merumuskan aturan-aturan mengenai penggunaan imajinasi didalam sejarah kecuali ketentuan-ketentuan yang bersifat umum. Merupakan pepatah yang yang telah usang bahwa sejarawan yang paling mengetahui hidup sekarang, juga akan mengetahui hidup yang lampau.  Karena watak manusia tidak banyak berubah dalam masa historis, generasi-generasi sekarang dapat mengerti generasi-generasi yang lampau dilihat dari sudut pengalamannya sendiri.
Sejarawan yang dapat mengajukan analogi dan kontras yang terbaik adalah mereka yang paling besar kesadarannya mengenai analogi dan kontras yang mungkin ada, yakni mempunyai jangkauan pengalaman, imajinasi, kearifan, dan pengetahuan yang seluas-luasnya. Sayang sekali tidak ada pepatah usang yang mengatakan bagaimana caranya untuk memperoleh jangkauan daripada sifat-sifat dan pengetahuan yang diinginkan itu, atau bagaimana cara mengalihkannya untuk mengerti masa lampau. Karena segalanya itu tidak hanya dihimpun dengan peraturan atau tauladan, kerajinan dan doa, meskipun semuanya itu dapat menolong. Dan karena itu, dalam arti usaha mensistesakan data sejarah menjadi kisah atau penyajian dengan jalan menulis buku-buku sejarah dan artikel atau mengungkapkan kuliah-kuliah sejarah, tidak mudah memberi aturan-aturan. Harus diluangkan tempat bagi bakat asli dan inspirasi. Dan agaknya hal itu merupakan sesuatu yang baik. Tetapi karena peraturan dan teladan mungkin ada gunanya, disini akan diusahakan untuk memberikan beberapa peraturan dan contoh.

C.   Masalah Seleksi, Penyusunan Dan Tekanan
Metode sejarah bersifat ilmiah jika dengan ilmiah dimaksudkan “mampu untuk menentukan fakta yang dapat dibuktikan” dan jika dengan fakta dimaksudkan suatu unsur yang diperoleh dari hasil pemeriksaan yang kritis terhadap dokumen sejarah dan bukannya suatu unsur dari aktualitas yang lampau. Apaka menguntungkan atau merugikan, fakta-fakta yang tidak bersambungan pada dirinya sendiri tidak merupakan hasil akhir sejarah. Sesuatu deskripsi mengenai masyarakat-masyarakat, kondisi-kondisi, gagasan-gagasan, dan lembaga-lembaga yang lampau atau suatu kisah mengenai karir dan peristiwa yang lampau biasanya merupakan tujuan bagi penyelidikan sejarah secara individual. Suatu deskripsi atau peristiwa seperti itu sering kali disebut secara terpisah sebagai sesuatu sejarah dan, sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya, dalam keseluruhannya penulisan-penulisa sejarah kadang-kadang disebut historiografi.

D.   Mendefinisikan Kembali Historiografi
Kenyataan bahwa ada arti-arti baru yang diberikan kepada kata-kata yang telah dipergunakan dengan arti yang lain, menyebabkan timbulnya sebagian kekacauan dalam diskusi-diskusi mengenai hakekat sejarah. Kiranya ada baiknya untuk mengulangi disini bahwa suatu sejarah merupakan suatu usaha yang sengaja untuk memberikan pertelaan untuk mengenai sesuatu peristiwa lampau atau kombinasi peristiwa-peristiwa; yakni apa yang disebut sejarah tertulis, untuk memperbedakannya dari sejarah-sebagai-aktualitas (atau totalitas masa lampau manusia baik yang diketahui atau tidak) dan dari sejarah yang direkam (atau bagian itu dari sejarah-sebagai-aktualitas yang bagaimanapun caranya telah dimasukkan kedalam rekaman yang dapat ditemukan, entah sudah ditemukan atau belum).
Dalam suatu jaman dimana kuliah-kuliah pada umumnya tidak dibaca dari naskah tulisan tangan, sebagaimana yang terjadi dalam masa belum adanya cetakan,  historiografi harus pula ditafsirkan meliputi sejarah lisan, karena kuliah, meskipun sarana penerbitan yang lebih murah, lebih terbatas dan tidak terlalu awet dibandingkan dengan pencetakan, mau tidak mau merupakan publikasi juga.
Dan historiografi yang menunjuk pada tulisan atau bacaan yang dapat disebut Historis harus diperbedakan dari kata yang sama apabila berarti proses penulisan sejarah (yakni, mempersatukan didalam sebuah sejarah, unsur-unsur yang diperoleh dari rekaman-rekaman melalui pengetrapan yang seksama daripada metode sejarah). Dalam halaman-halaman yang akan datang akan dibahas historiografi dalam arti kata yang kedua.

E.   Masalah Penyusunan: Periodesasi
Penyusunan data sejarah yang paling masuk akal adalah penyusunan secara kronologis, yakni dalam periode-periode waktu. Sebabnya ialah karena kronologi merupakan satu-satunya norma objektif dan konstan yang harus diperhitungkan oleh para sejarawan. Bahkan kronologi hanya secara relatif bersifat objektif, karena periodesasi dapat dan seringkali bersifat sewenang-wenang. Terlalu mudah sebutan-sebutan memberikan kesan bahwa perkembangan atau cita-cita yang menonjol itu tidak terdapat pada zaman lain dalam proporsi yang mencolok atau bahwa zaman-zaman yang ditonjolkan semacam itu tidak dapat disebut dengan nama lain dengan sama akuratnya.
Tindakan memberikan suatu nama deskriptif kepada sesuatu periode sejarah mungkin merupakan cara yang baik untuk memberikan kepada periode itu suatu “kerangka referensi” yang dapat dipergunakan untuk mengerti nilai-nilainya. Akan tetapi keuntungan itu menjadi hilang jika meniadakan usaha meniadakan usaha mencari kerangka referensi yang lain. Tak ada satupun zaman yang dapat disebutkan dengan tepat dengan memberikan satu sifat tunggal yang eksklusif. Usaha-usaha seperti itu seringkali mengakibatkan penggunaan secara kabur dan berkiasan terhadap istilah yang memberikan karakteristik.
Dalam knyataannya, studi sejarah sudah sangat dirugikan oleh kecenderungan untuk memberikan kepada periode-periode tertentu yang hanya relatif tepat, terutama sekali didalam tindakan membagi sejarah didalam periode-periode kuno, pertengahan dan modern. Pertama, jikapun sebutan-sebutan itu sudah terasa kabur dari sejarah Barat. Untuk budaya-budaya lain seperti budaya Cina atau Jepang telah melalui tahap-tahap perkembangan yang seolah-olah merupakan transisi yang analogis mulai suatu zaman klasik melalui suatu periode peralihan menuju kepada sesuatu jaman modern, maka pembatasan-pembatasan kronologis terhadap tahap-tahap itu tidak serasi dengan analogi baratnya. Kedua, kata-kata seperti kuno dan abad pertengahan cenderung kepada prasangka mengenai jarak waktu, kematian, dan keusangan yang seringkali akan tersangkat andaikata hasrat untuk memeriksa lebih lanjut tidak dipadamkan. Bagian terbesar dari sejarah yang biasa kita sebut kuno.
Peristiwa-peristiwa sekarang nampak besar dan memakan tempat yang banyak halaman didalam buku sejarah. Sejarawan manakah yang masih menganggap sebab-sebab bagi Perang Dunia I sebegitu penting sebagaimana yang dianggap oleh sebagian mereka yang termasuk generasi antara 1919 dan 1929? Perspektif sejarah, yakni kemampuan untuk meliahat peranan yang layak dari pada seperangkat peristiwa didalam karir panjang umat manusia, hanya dapat diperoleh dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, akan lebih baik keadaanya jika lebih banyak sejarawan memusatkan diri kepada masalah-masalah yang kekal dan lembaga-lembaga atau gagasan-gagasan yang menentukan didalam sejarah sejak rekamannya yang paling awal sampai masa kini, daripada mempelajari periode-periode tertentu didalam sejarah. Bahwa sesuatu kecenderungan kearah itu telah ada,  dibuktikan oleh perhatian yang semakin bertambah dari pihak para sejarawan terhadap tahap-tahap perkembangan sejarah seperti sejarah ekonomi, sejarah budaya, sejarah perniagaan, sejarah pertanian, dsb.

F.    Penulisan sejarah yang  bersifat ilmiah
Kegiatan terakhir dari penelitian sejarah (metode sejarah) adalah merangkaikan fakta berikut maknanya secara kronologis/diakronis dan sistematis, menjadi tulisan sejarah sebagai kisah. Kedua sifat uraian itu harus benar-benar tampak, karena kedua hal itu merupakan bagian dari ciri karya sejarah ilmiah, sekaligus ciri sejarah sebagai ilmu.
Selain kedua hal tersebut, penulisan sejarah, khususnya sejarah yang bersifat ilmiah, juga harus memperhatikan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah umumnya.
1.                 Bahasa yang digunakan harus bahasa yang baik dan benar menurut kaidah bahasa yang bersangkutan. Kaya ilmiah dituntut untuk menggunakan kalimat efektif.
2.                 Merperhatikan konsistensi, antara lain dalam penempatan tanda baca, penggunaan istilah, dan penujukan sumber.
3.                 Istilah dan kata-kata tertentu harus digunakan sesuai dengan konteks permasalahannya.
4.                 Format penulisan harus sesuai dengan kaidah atau pedoman yang berlaku, termasuk format penulisan bibliografi/daftar pustaka/daftar sumber.
Kaidah-kaidah tersebut harus benar-benar dipahami dan diterapkan, karena kualitas karya ilmiah bukan hanya terletak pada masalah yang dibahas, tetapi ditunjukkan pula oleh format penyajiannya.
G.  Metodologi Sejarah
Metodologi sejarah antara lain:
1.                 Penulisan sejarah di Indonesia
Historiografi Indonesia modern baru dimulai sekitar tahun 1957, waktu diselenggarakannya Seminar Sejrah Nasional Indonesia pertama di Yogyakarta. Adanya perubahan cara penulisan sejarah dari Neerlandocentrisme menjadi Indonesiacentrisme.  Kategori pertama dari kepustakaan sejarah ialah yang ditulis oleh sejarawan akademis.  Kegiatan penulisan sejarah yang lain meliputi berbagai kegiatan yang disponsori pemerintah dalam bentuk proyek-proyek penulisan, sejarah militer, sejarah popular, sejarah lisan dan lain-lain.  Sebagai usaha tambahan dari penulisan sejarah adalah usaha penerbitan arsip yang dikerjakan oleh Arsip Nasional. 
Dapat disimpulkan kategori tersebut adalah sejarah akademis, sejarah Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional (IDSN) dan sejarah militer, dan sejarah popular.

2.      Sejarah Lisan
Penggalian sumber sejarah atau informasi mengenai sejarah melalui teknik wawancara dengan orang-orang yang terlibat langsung atau saksi suatu peristiwa pada masa lampau. 
Kegunaan dari sejarah lisan adalah sebagai metode tunggal, serta sebagai bahan dokumenter.  Sejarah lisan juga mempunyai sumbangan yang besar dalam mengembangkan substansi penulisan sejarah, diantaranya dalam menggali sejarah dari pelaku-pelakunya tidak memiliki batasan, dapat mencapai pelaku sejarah yang tidak disebutkan dalam dokumen, dan memungkinkan perluasan permasalahan sejarah.

3.      Sejarah Kebudayaan
Sejarah kebudayaan adalah usaha mencari “morfologi budaya”, studi tentang struktur, pendapat dari Huizinga (1872-1945).  Tugas dari sejarah kebudayaan adalah mencari pola-polakehidupan, kesenian dan pemikiran secara bersama-sama.  Sejarah kebudayaan mempunyai peranan penting, karena hanya dengan melihat kemasa lalu kita dapat membangun masa depan dengan lebih baik.  Sejarah juga menawarkan cara pandang yang kritis mengenai masa lalu, sehingga tidak terjebak pada archaisme dan makronisme, sekalipun kita berpijak pada jati diri yang terbentuk dimasa lampau sejarah kita.

4.      Seminar Sejarah Lokal 1984
Seminar sejarah lokal, diselenggarakan pada tanggal 17-20 September 1984 di Medan. Hal-hal yang dibahas saat seminar sejarah lokal, 1984 adalah:
a.                 adanya kesadaran mengenai dimensi waktu dalam penulisan sejarah yang tampak dalam tulisan mengenai pendidikan
b.                 Tersingkapnya lebih banyak lagi garis depan sejarah
c.                 Adanya pendekatan antropologis dalam sejarah local Sumatera Utara
d.                 Hubungan migrasi dan perubahan sosial yang mendapat perhatian dari beberapa tulisan
e.                 Adanya teori dan konsep dari antropologi politik yang tampak secara implicit dalam tulisan mengenai Indonesia bagian timur
f.                 Sejarah revolusi yang diwakili oleh beberapa tulisan
g.                 Sejarah politik, terutama sejarah politik kontemporer, masih menjadi pantangan bagi sejarawan.
Sejarah lokal dalam bentuknya yang mikro telah tampak dasar-dasar dinamikanya, sehingga peristiwa sejarah dapat diterangkan melalui dinamika internal yang di tiap daerah  mempunyai kekhasan tersendiri yang otonom.
5.      Biografi
Biografi adalah catatan tentang hidup seseorang, meskipun sangat mikro, namun menjadi bagian dalam mosaic sejarah yang lebih besar. Otobiografi adalah biografi yang ditulis sendiri
Setiap biografi seharusnya mengandung hal-hal sebagai berikut:
a.                 kepribadian tokohnya
b.                 kekuatan sosial yang mendukung
c.                 lukisan sejarah zamannya
d.                 keberuntungan dan kesempatan yang datang
Terdapat dua macam biografi,yaitu Portrayal (portrait) artinya biografi hanya mencoba memahami dan Scientific (ilmiah) orang berusaha menerangkan tokohnya berdasar analisis ilmiah.

6.      Sejarah Kuantitatif
Sejarah kuantitatif ialah penggunaan metode kuantitatif dalam penulisan sejarah.
Sejarah kuantitatif menggunakan teknik matematika sehingga lebih objektif, sedangkan kualitatif menggunakan hermeunetika berpa interpretasi terhadap pikiran, perkataan dan perbuatan.
Sejumlah permasalahan yang dapat dikembangkan oleh sejarah kuantitatif yakni ekonomi, demografi, sosiologi, politik. Sumber sejarah ini adalah Biro Pusat Statistik (BPS).
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Penelitian sejarah harus dilandasi atau berpedoman pada kaidah-kaidah metode sejarah. Jika tidak, penelitian itu hanya akan menghasilkan tulisan sejarah semi ilmiah atau bahkan sejarah populer. Oleh karena itu calon peneliti sejarah harus memahami kaidah-kaidah metode sejarah dan mampu mengimplementasikannya, agar penelitian itu menghasilkan karya sejarah ilmiah.
Penulisan sejarah ilmiah dituntut untuk menghasilkan eksplanasi mengenai permasalahan yang dibahas. Eksplanasi itu diperoleh melalui analisis. Untuk mempertajam analisis, dalam proses penulisan sejarah, aplikasi metode dan teori sejarah perlu ditunjang oleh teori dan/atau konsep ilmu-ilmu sosial yang relevan (sosiologi, antropologi, ekonomi, politik, dll.). Dengan kata lain, penulisan sejarah yang dituntut memberikan eksplanasi mengenai masalah yang dibahas, perlu dilakukan secara interdisipliner dengan menggunakan pendekatan multidimensional (multidimensional approach). Hal itu sesuai dengan ciri-ciri dan karakteristik sejarah sebagai ilmu.
Oleh karena itu, penelitian sejarah dan hasilnya dapat membantu penelitian dan pengembangan kebudayaan. Sejarah mengkaji aspek-aspek kehidupan manusia di masa lampau, termasuk kebudayaan.



B.     Saran
Tiada hal yang sempurna di dunia ini, kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Termasuk makalah ini, pastilah ada kesalahan atau kekurangan. Demi terwujudnya makalah yang mendekati kesempurnaan, penulis memerlukan kritik dan saran yang membangun yang bersifat dan bertujuan untuk memperbaiki makalah penulis kedepannya. Apabila penulis ingin membuat makalah lagi, maka dapat menggunakan kritik dan saran yang dibuat oleh pembaca untuk mengurangi kesalahan dan kekurangan dalam membuat makalah.




DAFTAR RUJUKAN

Gottschalk, L. 1975. Mengerti Sejarah (Understanding History: A Primer of Historical Method) (Nugroho Notosusanto, Trans.). Malang : Yayasan Penerbit Universitas Indonesia.